Selasa, 03 Februari 2009

Twilight: Humanisme Vampir dan Werewolf

Stephanie Meyer menghadirkan titik singgung antara tradisi Vampir dan Werewolf. Vampir tak selamanya kejam. Werewolf tak layak kita hukumi sebagai pendosa. Keduanya juga mengenal cinta humanis, tatkala bertemu dengan Bella (Isabella Swan).

Edward sang Vampir, kaya raya sejak berabad-abad lalu. Ia berkarakter primus selayaknya pemuda yang cool dan lahir dengan sendok emas. Di balik kemegahan harta, ia harus menahan nafas untuk tidak memangsa manusia.

Jacob, anak muda yang hobi dengan otomotif harus menerima takdir sebagai Werewolf. Utak-atik mobil dan motor dalam sekilas waktu tertentu, tergantikan dengan bergeraknya hawa panas sekujur tubuh untuk menjadi serigala. Menghirup angin yang membawa aura Vampir. Bersiap-siap untuk memangsa.

Keduanya, Vampir dan Werewolf bertemu dengan Bella. Sosok manusia yang ingin menjadi Vampir dan berteman dengan Werewolf. Sesungguhnya, Bella tak ingin "menjadi Vampir", tapi sekedar hidup selamanya dengan Edward. Bila teman-teman hafal alur novel Twilight, maka keinginan itu sempat tertunda karena Edward meninggalkan Bella --seiring angin menelusup pepohonan di hutan.

Pesan langsung dari sang novelis adalah CINTA. Cinta yang terlarang. Cinta yang tak mengenal jalan kembali. Selain menjadi hidup dan sekaligus mati pada saat yang sama. Lembar terakhir novel Twilight mengernyitkan dahi kita bahwa gigi tajam itu akhirnya menekan leher Bella.

Dimanakah cinta pada saat taring tajam nan dingin bak porselen itu menekan leher manusia?

Nietzsche pada pesan 295 Beyond Good and Evil, menulis tentang genius hati. Jenis hati milik para dewa yang tahu bagaimana masuk ke dalam setiap jiwa. Tanpa mengucapkan kata-kata atau pun memberikan tatapan sekilas tanpa memiliki sesuatu yang menarik.

Nietzsche mengapresiasi Dionysus dan sampailah ia pada bentuk manusia yang Lebih Kuat, Lebih Dalam, Lebih Jahat dan ...... Lebih Indah..." Kira-kira, begitulah postur Edward dan Jacob yang Lebih Kuat, Lebih Dalam, Lebih Jahat dan Lebih Indah, ketimbang manusia biasa yang berlagak Adi-Manusia.

Apresiasi atas pesan-pesan cinta dalam Twilight dapatlah meluber kemana-mana. Satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana kata-hati Isabell bergaung ketika menempuh jalan hidup yang penuh marabahaya. Kata-hati yang dikiranya dari Edward, ternyata berasal dari dirinya sendiri.

Kata-hati itu bergema untuk menyapa teman, kerabat, saudara dan kerabat maya kita dimana-mana. Saya sering berpikir bagaimana saya bisa membantu mereka untuk terus melangkah dan membuat mereka lebih kuat, lebih dalam dan .... lebih indah, dari mereka sekarang.

Suatu langkah biasa tanpa absurditas Twilight...

2 komentar:

  1. saya sangat memahami bait perbait dari sentuhan2 hati dan kedalaman isi cerita, banyak makna, dengan tingginya filosofi yang terkandung, terutama dari makna "Cinta" yang tersirat, Lanjutkan perjuangan teman from Cibubur alias Cilangkap.

    BalasHapus
  2. "NAVY" GrassLand VI no. 9 Cibubur Country Cikeas Indonesia

    BalasHapus

Mohon Tinggalkan Alamat Blog untuk Silaturrahim