Senin, 16 Februari 2009

Perubahan atas Diri Bunga Mawar

Sesekali, bunga mawar itu tersentak lamunannya sendiri.

Ada kerikil berduri yang membuat hatinya terus resah tiap kali mengingat peristiwa terdalam di ruang hatinya.

Ia meneteskan air mata. Carut marut suasana kalbu sore itu.

Entah, barangkali ini adalah cerita terbaik yang menjadi takdir dalam hidupnya. Ketika ia merasa pongah dengan kemolekan tubuhnya, maka kehidupannya hancur diluluh-lantakkan peristiwa alam yang tidak bersahabat sama sekali. Bayangkan saja, sekian banyak tanaman mawar yang selama ini menutupi lembah dan membentuk pesona, porak poranda terserang banjir bandang.

Hampir semuanya terhanyut dan busuk karena amukan air bah tanpa ampun sama sekali. Benar-benar kacau…….

Hhmmm….sang mawar mendesah pelan. Kenapa harus seperti ini? Punah. Tapi entahlah, insting sang mawar selalu mengatakan kalau musibah itu terjadi akibat kesombongan yang memuncak, dahsyat dan tak terkalahkan. Kini, investasi keburukan itu menuai luka perih yang membuatnya terus berfikir untuk selalu mohon maaf. Entah kepada siapa, apa dan mengapa. Hanya Tuhan yang tahu ……

Alkisah di sebuah ladang di bawah Gunung Merapi daratan Jawa, terdapat hamparan berbagai bunga yang luas. Semuanya memancarkan pesona yang indah. Ada bunga mawar berbagai jenis yang sungguh indah dan molek yang kadangkala begitu sombong memamerkan kecantikannya kepada bunga–bunga lain. Selalu saja ia menganggap dirinya adalah bunga terindah di dunia, bentuknya yang besar, halus, wangi dan mulus seakan membuat siapapun yang melihat ingin memetiknya. Belum lagi warna warni yang dimilikinya begitu beragam mulai dari merah, jingga, kuning, putih, pink dan masih banyak lagi lainnya.

Kehadiran puluhan bunga mawar tentu saja membuat bunga lainnya iri. Apalagi jumlah yang berbunga makin hari semakin banyak, keadaan ini semakin membuat mawar congkak dan menciutkan hati bunga–bunga di sekitarnya.

Selang beberapa waktu kemudian, muncullah sebuah peristiwa yang menyedihkan. Di saat musim hujan tiba, semua bunga sibuk menyelamatkan diri. Bunga–bunga kecil berupaya melindungi diri agar tidak dimakan badai. Mereka sadar kekuatan yang dimilikinya tidak sebesar bunga lainnya. Begitu hujan lebat datang, hiruk pikuk terdengar jeritan bunga–bunga di lembah itu.

“Ya Tuhan, masihkah kau beri umur panjang diriku ini,“ terdengar rintihan bunga pukul sembilan begitu pilu.

Tidak ada yang peduli dengan rintihan itu. Mereka saling mendekap erat tubuh kecilnya dengan air mata berlinang. Ia coba untuk tetap bertahan diterpa derasnya air hujan yang begitu angkuh menjatuhkan diri ke bumi. Belum lagi rasa sakit di hatinya sirna, bunga mawar terlihat tertawa mengejek bunga pukul sembilan. Dengan nada congkak ia berkata: “Kasihan sekali kau bunga kecil, hidupmu tidak akan bertahan lama, coba aja kau amati, hampir tiap hari tubuhmu diinjak–injak manusia atau hewan." Bungamu juga tidak indah sepertiku, yang selalu jadi kebanggaan wanita. Mereka yang melihat pasti berdecak kagum, tersenyum dan ingin menyentuh bahkan mengambilku sebagai penghias ruangan.

Bunga pukul sembilan semakin sedih mendengar kalimat mawar, tidak ada satu jawaban pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa bertahan di tengah–tengah hujan lebat dan memohon perlindungan Allah. Ia berfikir percuma membantah kalimat bunga mawar, pasti ia kalah dengan keganjilan nalar bunga mawar.

Akhirnya bunga pukul sembilan membiarkan mawar terus menghina. Lama–lama dianggapnya ocehan itu seperti dongeng pengantar tidur. Lama kemudian ia tertidur pulas, lelap dibuai mimpi.

Esok harinya, saat matahari mulai mengangkangi bumi, bunga pukul sembilan mulai terbangun. Tubuhnya yang mungil bergeliat manja di atas hamparan bumi yang indah. Dengan mengerjap mata, bunga pukul sembilan berusaha mengingat kembali berbagai peristiwa yang terjadi sebelum ia tertidur lelap.

Tiba – tiba ia teringat temannya si bunga mawar, didongakkan kepala ke kanan dan kiri, tidak terlihat bunga mawar sama sekali. Lho, kemana mereka ya …? Bukannya mereka kemarin berdiri tegap mempertontonkan keindahan tubuhnya pada hujan seolah ingin menantang hujan. Kemana bunga yang angkuh itu ya?

Terus saja mata si bunga pukul sembilan mengamati situasi di sekelilingnya , dan…“ Ya Tuhan, apa yang telah terjadi…..?” Mata bunga pukul sembilan begitu membelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Batinnya begitu trenyuh. Ya Tuhan , peristiwa apa yang telah terjadi di sekitarku ini. Ratusan bunga mawar berjatuhan porak poranda, semuanya hancur. Bunga mawar merah yang kemarin mengejeknya sekarang sudah jadi mayat, hancur lebur dan bau busuk mulai menyebar ke semua tempat. Situasi benar–benar kurang menyenangkan.

Semua binatang dan tumbuhan yang masih hidup sibuk menutup hidung masing–masing. Menurut cerita yang didengar bunga pukul sembilan, kemarin sore di daerah itu terserang banjir hebat. Puluhan orang–orang sibuk menyelamatkan diri. Hamparan bunga mawar yang panik menjadi korban injakan kaki manusia, dan akibatnya mereka tidak mampu mempertahankan diri dan roboh karena keadaan.

Bunga pukul sembilan termangu. Sebenarnya dia pun terkena banjir tapi akarnya dan tubuhnya yang mungil begitu kuat menancap di bumi. Meski diinjak–injak manusia tetap saja di bawah alam bawah sadarnya ia berusaha menyelamatkan diri menghadapi bencana yang datang. Dalam mimpi pun ia tetap lincah dan fleksibel mengatasi berbagai kesulitan.

***

Teman-teman Blogger Malang yang budiman, disadari atau tidak di dalam hidup ini kita senantiasa dihadapkan pada banyak sekali peristiwa. Mulai dari yang menyenangkan sampai menjengkelkan. Mulai dari kebahagiaan, kegelisahan sampai dengan derajat kebosanan yang menjenuhkan. Diantara kita ada yang kuat tapi lebih banyak yang merasa putus asa bahkan nyaris nekat mengakhiri hidupnya.

Narasi tentang mawar dan bunga pukul sembilan membuahkan samudra hikmah.

Pertama, mengenai si bunga mawar yang begitu indah dan molek yang membuat iri hampir semua bunga lain yang melihatnya. Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah kita terlahir di dunia ini dengan kondisi fisik yang sudah ditentukan, tidak bisa memilih harus begini harus begitu, harus menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Suatu misal kita menginginkan hidung kita lebih dari satu dengan harapan agar udara yang kita hirup terlalu banyak dan badan kita menjadi lebih sehat. Keinginan itupun mustahil kita harapkan karena semua yang ada diri kita merupakan pemberian Tuhan. Untuk proses kelahiran jabang bayi, manusia hanya bisa berusaha dan berharap agar sesuai keinginan sementara hasil jadinya Tuhan yang menentukan .

Syukurlah kalau kita terlahir menjadi mahluk yang indah, cantik, menawan. Namun kalau kita terus terlena, kondisi ini bisa membuat kita tinggi hati, kurang menghargai sesama dan membuat orang lain kurang menghargai kita karena ketidakmampuan untuk mensyukuri segala nikmat yang kita terima. Apabila kondisi ini terus terjadi maka akan membawa dampak yang kurang bagus bagi diri sendiri yang dikhawatirkan memberi pengaruh kepada orang lain.

Kedua, apa yang akan terjadi jika rumput kita injak setiap hari, tiba–tiba menghilang dari permukaan bumi. Tanduskah alam di sekitar kita? Apa yang ada di benak kita memberi dampak positif atau negatif kondisi ini. Kondisi yang kecil, baik itu berupa fisik, atau ketidak mampuan kita akan satu hal seringkali membuat kita minder. "Aku nggak mampu begini, nggak mampu begitu, biar saja hidupku begitu. Lebih baik aku jadi orang pasif aja daripada ditertawakan orang...

Terus menerus kita sibuk memvonis berbagai kekurangan yang ada di dalam diri kita. Berhari-hari, berbulan–bulan bahkan bertahun–tahun kondisi ini terus terjadi. Sehingga tidak ada ruang dan waktu di dalam hidup kita untuk memahami potensi yang kita miliki, mudah menyerah dan kurang bisa menghargai jiwa kita.

Entah sampai kapan kita akan memperlakukan diri kita seperti itu. Jika kita ingin semua kondisi berjalan tetap dan tidak ada perubahan biarlah semuanya berjalan tanpa perubahan. Namun jika kita ingin hidup kita lebih baik, ada saatnya kita belajar bersyukur dengan kondisi fisik kita.

Tuhan punya maksud baik di balik penciptaan manusia dan tidak ada yang sia–sia. Jadi saudaraku, berhentilah mengeluh, bersyukur dan galilah potensi yang ada dalam diri kita. Apapun yang terjadi, pasti ada hikmah di balik semua perjalanan hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon Tinggalkan Alamat Blog untuk Silaturrahim