Minggu, 15 Februari 2009

Miki & Paradigma Semut Merah

"Tttuuuiitt……tuuuit…ttuuiitt…."

Ach ! itu pasti seruling Miki, tanda panggilan untuk para sahabat terkasih. Seruling kayu yang menandakan kedekatan musik dan alam.

Tak lama kemudian keampuhan seruling itu terbukti. Satu persatu anak semut mengerumuni Miki. Mereka mengelilingi sahabat yang selama ini dielu–elukan karena banyak membantu saat menguliti masalah kehidupan. Miki memang luar biasa, tubuhnya yang rapuh dan penuh dengan ketidaksempurnaan, tidak mampu membelenggu potensi yang ada. Seperti kacang tak lupa kulitnya, Miki pun demikian halnya, mencoba memaknai diri apa adanya dan memahami kondisi yang ada. Dengan terlahir dari keluarga yang kurang beruntung, ia coba berdiri setelah seribu kali terjatuh, guna menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi diri sendiri di tengah cemoohan yang tak berserat.

Kini impian itu nyata. Meraup sejumlah pengharapan yang indah. Miki memang luar biasa, begitupun anda, pembaca cerita ini.

Pagi itu seperti biasa, Miki, anak dari keluarga semut pasangan bapak/ibu Miki, sedang asyik bermain lompat–lompatan. Kali ini dia sendiri tidak ditemani siapapun. Mungkin karena terlalu pagi dia bermain, kala teman–teman lain masih membantu ibunya di rumah.

"Ah, masih jam 07.00, paling teman–teman sebentar lagi datang". Sambil menunggu teman–temannya , ia membunuh waktu dengan memainkan seruling buatannya sendiri. Seruling kecil dari bambu pendek yang pas untuk ukuran mahluk sebesar Miki "Wiiitt……..tuuuitt….tuiiitt….ttt" seruling Miki terdengar mendayu–dayu, mengalun bersama angin, perlahan mengarahkan ke telinga teman–teman Miki.

Mereka tahu itu pertanda panggilan dari ketua kelompoknya. Selalu saja kalau mau bermain dengan teman–temannya, ia datang duluan karena setiap pagi dirinya bangun paling pagi dibandingkan teman–teman.
Hampir semua teman–teman dari keluarga semut melakukan hal yang sama yakni bangun tidur dan langsung membantu ibu. Miki menjadi panutan karena dianggap paling disiplin serta memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin kelompok anak semut merah. Hampir setiap hari, Miki mengajak kesepuluh sahabatnya bermain selain juga memecahkan antar mereka secara kompak.

Kepiawaian Miki dalam mengelola pertemanan itu membuat keberadaannya diakui oleh teman dan orang tua semut. Bahkan para orangtua merasa aman bila anaknya bermain bersama Miki.
Kadangkala bila mengingat masa lalu, sambil main seruling Miki sering meneteskan air mata. Dulu ia dan keluarganya sering jadi bahan cemoohan para semut.

Asal usulnya dari keluarga miskin membuat mereka memperlakukan seenaknya. Dengan kondisi apa adanya mereka terluka hingga kehidupannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain akibat terusir. Tidak ada satu komunitas semut pun yang mau menerima dan memandangnya sebelah mata. Ia dianggap membawa sial berkaitan dengan problema yang sering melanda keluarga Miki.

Hingga akhirnya pada suatu ketika, Miki sebagai anak tertua berusaha bangkit. Ia jengah keluarganya terus jadi bahan cemoohan. Ia berjanji pada alam dan diri sendiri, memutar kecepatan otak guna membuat suatu komitmen akan menjelma jadi sosok semut yang bisa menjadi contoh bagi anak semut lainnya. Keyakinannya begitu besar, ia percaya keyakinan bisa melahirkan keajaiban. Di benak Miki terus terngiang–ngiang ucapan sang paman yang yakin bila keponakannya dapat menjadi pribadi yang positif. Hidupnya mampu memberi kemanfaatan bagi lingkungannya. “Yakinlah , apa yang kamu pikirkan bisa jadi kenyataan, untuk itu kamu harus memiliki kekuatan pribadi yang tangguh guna mempertahankan keinginannya...".

Saya merasa, kita dapat mengubah paradigma kerumunan semut yang tadinya memandang sebelah mata (under estimate) hingga beringsut angkat topi. Tanda setuju memproklamirkan keluarga Miki sebagai keluarga panutan. Seiring berjalannya waktu, keteguhan dan ketangguhan hati Miki membuahkan hasil. Dibarengi dengan sikap–sikap positif dan rasa empati terhadap semut lain. Miki akhirnya dipercaya oleh teman–teman sebagai pemimpin mereka yang siap membawa mereka menjadi pribadi yang baik.

Bahkan menurut rencana, bila sudah besar nanti kelompok semut akan memproklamirkannya sebagai raja karena sejak kecil Miki memiliki pribadi positif, tangguh dan kuat, dipercaya bisa mengangkat harkat serta martabat kelompok mereka.


***

Pesan moral si Miki cukup menyentil kalbu kita. Dengan sosoknya yang kecil, lemah, di balik itu ternyata dia memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Keinginan tulusnya untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga yang menjadikan dirinya berpuluh–puluh tingkat lebih, kini tercapai sudah. Bila sejenak kita berfikir, sebenarnya kondisi yang dialami Miki banyak terjadi di sekitar kita atau bahkan sekarang tengah kita alami, terombang–ambing oleh perasaan hampa yang kita miliki tanpa alasan jelas.
Turunnya kepercayaan orang lain terhadap kita secara perlahan maupun drastis dapat membuat hidup kita goyang dan melahirkan rasa kurang percaya diri. Rendahnya pengakuan pihak lain atas kemampuan yang kita miliki menimbulkan rasa khawatir, dan itu adalah satu hal yang lumrah.

Teman-teman di kota Malang sekalian, kalau fenomena itu sudah terjadi, saya yakin semua dari kita tidak menginginkan itu terus terjadi. Kalau sudah terlanjur, mau tidak mau keteguhan pribadi Miki perlu kita jadikan contoh.


Kesabaran dan keteladanan semut kecil ini mampu menggugah dan menciptakan pemikiran besar yang berdampak positif. Apa yang sudah dilakukan Miki tidak ada salahnya kita tiru. Kalau keberanian, keyakinan dan ketangguhan kita miliki, pastilah akan melahirkan pribadi tangguh. Setangguh berbentuk apa dan dimana-pun berada .*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon Tinggalkan Alamat Blog untuk Silaturrahim