Kamis, 26 Februari 2009

Perlu Reformasi Hukum dan Sisdiknas






Selasa, 17 Februari 2009 20:35:39 - oleh : redaksi


TINGGINYA jumlah anak usia sekolah –SMP,SMA, bahkan SD- yang sudah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, patut ditelusuri akar permasalahan serta faktor pendorongnya. Menurut Robikin Emhas SH MH, praktisi hukum asal Malang, terdapat kelemahan sistematis pada bidang pendidikan dan penegakan hukum yang secara tidak langsung menjadi akar masalah sekaligus faktor pendorong fenomena tersebut.

Pada bidang hukum, misalnya. Dalam sistem hukum kita, yang disebut dengan perzinahan adalah apabila salah satu atau kedua pelakunya sudah menikah. Hal ini membuat orang yang belum menikah, termasuk anak usia sekolah, bisa bebas dari jerat hukum bila melakukan zina. Bila ditelusuri, dasar hukum ini merupakan warisan Belanda yang hingga saat ini belum berubah.


“Perlu ada reformasi hukum yang substansinya didasarkan pada nilai-nilai yang hidup di masyarakat kita, seperti nilai agama, nilai sosial, budaya, dan moral. Termasuk pemahaman soal perzinahan tadi,” ujar Robikin.

Di samping soal substansi hukum yang perlu direformasi, pengacara senior yang kini ikut nyaleg (menjadi caleg) DPR Pusat ini menekankan penegakan hukum harus dilakukan dengan tegas dan berani. Sebagai contoh, salah satu pendorong perilaku seks bebas di kalangan remaja adalah pengaruh media massa, seperti majalah dan film porno serta internet. Secara hukum sudah ada aturan bahwa media massa yang memuat informasi khusus dewasa tidak bolah dikonsumsi oleh anak di bawah umur, termasuk anak usia SMP dan SMA, apalagi SD.

“Aturan ini sudah ada, hanya penegakan hukum yang kurang maksimal. Kalau hal ini bisa dilakukan, saya yakin mampu menekan peluang dan potensi terjadinya hubungan seksual di luar nikah,” jelas alumnus Unmer dan Universitas Brawijaya Malang ini.


Lebih dari itu, bidang pendidikan juga berperan sangat penting dalam menekan perilaku seks usia sekolah. Salah satunya pada metode pembelajaran yang hendaknya lebih partisipatif dan berbasis pada realitas sosial. Siswa tidak lagi harus takut bahkan sulit memahami realitas sosial, hanya karena pendidik yang kurang terbuka atau bahkan minim pengetahuan.


“Pada pendidikan seks misalnya, siswa harus mendapat informasi dari hilir sampai hulunya. Sehingga mereka tahu persis informasi itu termasuk kerugian-kerugian bila mereka melakukan hubungan seksual,” pungkas Robikin Emhas.
.mas-KP


Senin, 16 Februari 2009

Perubahan atas Diri Bunga Mawar

Sesekali, bunga mawar itu tersentak lamunannya sendiri.

Ada kerikil berduri yang membuat hatinya terus resah tiap kali mengingat peristiwa terdalam di ruang hatinya.

Ia meneteskan air mata. Carut marut suasana kalbu sore itu.

Entah, barangkali ini adalah cerita terbaik yang menjadi takdir dalam hidupnya. Ketika ia merasa pongah dengan kemolekan tubuhnya, maka kehidupannya hancur diluluh-lantakkan peristiwa alam yang tidak bersahabat sama sekali. Bayangkan saja, sekian banyak tanaman mawar yang selama ini menutupi lembah dan membentuk pesona, porak poranda terserang banjir bandang.

Hampir semuanya terhanyut dan busuk karena amukan air bah tanpa ampun sama sekali. Benar-benar kacau…….

Hhmmm….sang mawar mendesah pelan. Kenapa harus seperti ini? Punah. Tapi entahlah, insting sang mawar selalu mengatakan kalau musibah itu terjadi akibat kesombongan yang memuncak, dahsyat dan tak terkalahkan. Kini, investasi keburukan itu menuai luka perih yang membuatnya terus berfikir untuk selalu mohon maaf. Entah kepada siapa, apa dan mengapa. Hanya Tuhan yang tahu ……

Alkisah di sebuah ladang di bawah Gunung Merapi daratan Jawa, terdapat hamparan berbagai bunga yang luas. Semuanya memancarkan pesona yang indah. Ada bunga mawar berbagai jenis yang sungguh indah dan molek yang kadangkala begitu sombong memamerkan kecantikannya kepada bunga–bunga lain. Selalu saja ia menganggap dirinya adalah bunga terindah di dunia, bentuknya yang besar, halus, wangi dan mulus seakan membuat siapapun yang melihat ingin memetiknya. Belum lagi warna warni yang dimilikinya begitu beragam mulai dari merah, jingga, kuning, putih, pink dan masih banyak lagi lainnya.

Kehadiran puluhan bunga mawar tentu saja membuat bunga lainnya iri. Apalagi jumlah yang berbunga makin hari semakin banyak, keadaan ini semakin membuat mawar congkak dan menciutkan hati bunga–bunga di sekitarnya.

Selang beberapa waktu kemudian, muncullah sebuah peristiwa yang menyedihkan. Di saat musim hujan tiba, semua bunga sibuk menyelamatkan diri. Bunga–bunga kecil berupaya melindungi diri agar tidak dimakan badai. Mereka sadar kekuatan yang dimilikinya tidak sebesar bunga lainnya. Begitu hujan lebat datang, hiruk pikuk terdengar jeritan bunga–bunga di lembah itu.

“Ya Tuhan, masihkah kau beri umur panjang diriku ini,“ terdengar rintihan bunga pukul sembilan begitu pilu.

Tidak ada yang peduli dengan rintihan itu. Mereka saling mendekap erat tubuh kecilnya dengan air mata berlinang. Ia coba untuk tetap bertahan diterpa derasnya air hujan yang begitu angkuh menjatuhkan diri ke bumi. Belum lagi rasa sakit di hatinya sirna, bunga mawar terlihat tertawa mengejek bunga pukul sembilan. Dengan nada congkak ia berkata: “Kasihan sekali kau bunga kecil, hidupmu tidak akan bertahan lama, coba aja kau amati, hampir tiap hari tubuhmu diinjak–injak manusia atau hewan." Bungamu juga tidak indah sepertiku, yang selalu jadi kebanggaan wanita. Mereka yang melihat pasti berdecak kagum, tersenyum dan ingin menyentuh bahkan mengambilku sebagai penghias ruangan.

Bunga pukul sembilan semakin sedih mendengar kalimat mawar, tidak ada satu jawaban pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa bertahan di tengah–tengah hujan lebat dan memohon perlindungan Allah. Ia berfikir percuma membantah kalimat bunga mawar, pasti ia kalah dengan keganjilan nalar bunga mawar.

Akhirnya bunga pukul sembilan membiarkan mawar terus menghina. Lama–lama dianggapnya ocehan itu seperti dongeng pengantar tidur. Lama kemudian ia tertidur pulas, lelap dibuai mimpi.

Esok harinya, saat matahari mulai mengangkangi bumi, bunga pukul sembilan mulai terbangun. Tubuhnya yang mungil bergeliat manja di atas hamparan bumi yang indah. Dengan mengerjap mata, bunga pukul sembilan berusaha mengingat kembali berbagai peristiwa yang terjadi sebelum ia tertidur lelap.

Tiba – tiba ia teringat temannya si bunga mawar, didongakkan kepala ke kanan dan kiri, tidak terlihat bunga mawar sama sekali. Lho, kemana mereka ya …? Bukannya mereka kemarin berdiri tegap mempertontonkan keindahan tubuhnya pada hujan seolah ingin menantang hujan. Kemana bunga yang angkuh itu ya?

Terus saja mata si bunga pukul sembilan mengamati situasi di sekelilingnya , dan…“ Ya Tuhan, apa yang telah terjadi…..?” Mata bunga pukul sembilan begitu membelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Batinnya begitu trenyuh. Ya Tuhan , peristiwa apa yang telah terjadi di sekitarku ini. Ratusan bunga mawar berjatuhan porak poranda, semuanya hancur. Bunga mawar merah yang kemarin mengejeknya sekarang sudah jadi mayat, hancur lebur dan bau busuk mulai menyebar ke semua tempat. Situasi benar–benar kurang menyenangkan.

Semua binatang dan tumbuhan yang masih hidup sibuk menutup hidung masing–masing. Menurut cerita yang didengar bunga pukul sembilan, kemarin sore di daerah itu terserang banjir hebat. Puluhan orang–orang sibuk menyelamatkan diri. Hamparan bunga mawar yang panik menjadi korban injakan kaki manusia, dan akibatnya mereka tidak mampu mempertahankan diri dan roboh karena keadaan.

Bunga pukul sembilan termangu. Sebenarnya dia pun terkena banjir tapi akarnya dan tubuhnya yang mungil begitu kuat menancap di bumi. Meski diinjak–injak manusia tetap saja di bawah alam bawah sadarnya ia berusaha menyelamatkan diri menghadapi bencana yang datang. Dalam mimpi pun ia tetap lincah dan fleksibel mengatasi berbagai kesulitan.

***

Teman-teman Blogger Malang yang budiman, disadari atau tidak di dalam hidup ini kita senantiasa dihadapkan pada banyak sekali peristiwa. Mulai dari yang menyenangkan sampai menjengkelkan. Mulai dari kebahagiaan, kegelisahan sampai dengan derajat kebosanan yang menjenuhkan. Diantara kita ada yang kuat tapi lebih banyak yang merasa putus asa bahkan nyaris nekat mengakhiri hidupnya.

Narasi tentang mawar dan bunga pukul sembilan membuahkan samudra hikmah.

Pertama, mengenai si bunga mawar yang begitu indah dan molek yang membuat iri hampir semua bunga lain yang melihatnya. Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah kita terlahir di dunia ini dengan kondisi fisik yang sudah ditentukan, tidak bisa memilih harus begini harus begitu, harus menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Suatu misal kita menginginkan hidung kita lebih dari satu dengan harapan agar udara yang kita hirup terlalu banyak dan badan kita menjadi lebih sehat. Keinginan itupun mustahil kita harapkan karena semua yang ada diri kita merupakan pemberian Tuhan. Untuk proses kelahiran jabang bayi, manusia hanya bisa berusaha dan berharap agar sesuai keinginan sementara hasil jadinya Tuhan yang menentukan .

Syukurlah kalau kita terlahir menjadi mahluk yang indah, cantik, menawan. Namun kalau kita terus terlena, kondisi ini bisa membuat kita tinggi hati, kurang menghargai sesama dan membuat orang lain kurang menghargai kita karena ketidakmampuan untuk mensyukuri segala nikmat yang kita terima. Apabila kondisi ini terus terjadi maka akan membawa dampak yang kurang bagus bagi diri sendiri yang dikhawatirkan memberi pengaruh kepada orang lain.

Kedua, apa yang akan terjadi jika rumput kita injak setiap hari, tiba–tiba menghilang dari permukaan bumi. Tanduskah alam di sekitar kita? Apa yang ada di benak kita memberi dampak positif atau negatif kondisi ini. Kondisi yang kecil, baik itu berupa fisik, atau ketidak mampuan kita akan satu hal seringkali membuat kita minder. "Aku nggak mampu begini, nggak mampu begitu, biar saja hidupku begitu. Lebih baik aku jadi orang pasif aja daripada ditertawakan orang...

Terus menerus kita sibuk memvonis berbagai kekurangan yang ada di dalam diri kita. Berhari-hari, berbulan–bulan bahkan bertahun–tahun kondisi ini terus terjadi. Sehingga tidak ada ruang dan waktu di dalam hidup kita untuk memahami potensi yang kita miliki, mudah menyerah dan kurang bisa menghargai jiwa kita.

Entah sampai kapan kita akan memperlakukan diri kita seperti itu. Jika kita ingin semua kondisi berjalan tetap dan tidak ada perubahan biarlah semuanya berjalan tanpa perubahan. Namun jika kita ingin hidup kita lebih baik, ada saatnya kita belajar bersyukur dengan kondisi fisik kita.

Tuhan punya maksud baik di balik penciptaan manusia dan tidak ada yang sia–sia. Jadi saudaraku, berhentilah mengeluh, bersyukur dan galilah potensi yang ada dalam diri kita. Apapun yang terjadi, pasti ada hikmah di balik semua perjalanan hidup kita.

Minggu, 15 Februari 2009

Miki & Paradigma Semut Merah

"Tttuuuiitt……tuuuit…ttuuiitt…."

Ach ! itu pasti seruling Miki, tanda panggilan untuk para sahabat terkasih. Seruling kayu yang menandakan kedekatan musik dan alam.

Tak lama kemudian keampuhan seruling itu terbukti. Satu persatu anak semut mengerumuni Miki. Mereka mengelilingi sahabat yang selama ini dielu–elukan karena banyak membantu saat menguliti masalah kehidupan. Miki memang luar biasa, tubuhnya yang rapuh dan penuh dengan ketidaksempurnaan, tidak mampu membelenggu potensi yang ada. Seperti kacang tak lupa kulitnya, Miki pun demikian halnya, mencoba memaknai diri apa adanya dan memahami kondisi yang ada. Dengan terlahir dari keluarga yang kurang beruntung, ia coba berdiri setelah seribu kali terjatuh, guna menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi diri sendiri di tengah cemoohan yang tak berserat.

Kini impian itu nyata. Meraup sejumlah pengharapan yang indah. Miki memang luar biasa, begitupun anda, pembaca cerita ini.

Pagi itu seperti biasa, Miki, anak dari keluarga semut pasangan bapak/ibu Miki, sedang asyik bermain lompat–lompatan. Kali ini dia sendiri tidak ditemani siapapun. Mungkin karena terlalu pagi dia bermain, kala teman–teman lain masih membantu ibunya di rumah.

"Ah, masih jam 07.00, paling teman–teman sebentar lagi datang". Sambil menunggu teman–temannya , ia membunuh waktu dengan memainkan seruling buatannya sendiri. Seruling kecil dari bambu pendek yang pas untuk ukuran mahluk sebesar Miki "Wiiitt……..tuuuitt….tuiiitt….ttt" seruling Miki terdengar mendayu–dayu, mengalun bersama angin, perlahan mengarahkan ke telinga teman–teman Miki.

Mereka tahu itu pertanda panggilan dari ketua kelompoknya. Selalu saja kalau mau bermain dengan teman–temannya, ia datang duluan karena setiap pagi dirinya bangun paling pagi dibandingkan teman–teman.
Hampir semua teman–teman dari keluarga semut melakukan hal yang sama yakni bangun tidur dan langsung membantu ibu. Miki menjadi panutan karena dianggap paling disiplin serta memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin kelompok anak semut merah. Hampir setiap hari, Miki mengajak kesepuluh sahabatnya bermain selain juga memecahkan antar mereka secara kompak.

Kepiawaian Miki dalam mengelola pertemanan itu membuat keberadaannya diakui oleh teman dan orang tua semut. Bahkan para orangtua merasa aman bila anaknya bermain bersama Miki.
Kadangkala bila mengingat masa lalu, sambil main seruling Miki sering meneteskan air mata. Dulu ia dan keluarganya sering jadi bahan cemoohan para semut.

Asal usulnya dari keluarga miskin membuat mereka memperlakukan seenaknya. Dengan kondisi apa adanya mereka terluka hingga kehidupannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain akibat terusir. Tidak ada satu komunitas semut pun yang mau menerima dan memandangnya sebelah mata. Ia dianggap membawa sial berkaitan dengan problema yang sering melanda keluarga Miki.

Hingga akhirnya pada suatu ketika, Miki sebagai anak tertua berusaha bangkit. Ia jengah keluarganya terus jadi bahan cemoohan. Ia berjanji pada alam dan diri sendiri, memutar kecepatan otak guna membuat suatu komitmen akan menjelma jadi sosok semut yang bisa menjadi contoh bagi anak semut lainnya. Keyakinannya begitu besar, ia percaya keyakinan bisa melahirkan keajaiban. Di benak Miki terus terngiang–ngiang ucapan sang paman yang yakin bila keponakannya dapat menjadi pribadi yang positif. Hidupnya mampu memberi kemanfaatan bagi lingkungannya. “Yakinlah , apa yang kamu pikirkan bisa jadi kenyataan, untuk itu kamu harus memiliki kekuatan pribadi yang tangguh guna mempertahankan keinginannya...".

Saya merasa, kita dapat mengubah paradigma kerumunan semut yang tadinya memandang sebelah mata (under estimate) hingga beringsut angkat topi. Tanda setuju memproklamirkan keluarga Miki sebagai keluarga panutan. Seiring berjalannya waktu, keteguhan dan ketangguhan hati Miki membuahkan hasil. Dibarengi dengan sikap–sikap positif dan rasa empati terhadap semut lain. Miki akhirnya dipercaya oleh teman–teman sebagai pemimpin mereka yang siap membawa mereka menjadi pribadi yang baik.

Bahkan menurut rencana, bila sudah besar nanti kelompok semut akan memproklamirkannya sebagai raja karena sejak kecil Miki memiliki pribadi positif, tangguh dan kuat, dipercaya bisa mengangkat harkat serta martabat kelompok mereka.


***

Pesan moral si Miki cukup menyentil kalbu kita. Dengan sosoknya yang kecil, lemah, di balik itu ternyata dia memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Keinginan tulusnya untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga yang menjadikan dirinya berpuluh–puluh tingkat lebih, kini tercapai sudah. Bila sejenak kita berfikir, sebenarnya kondisi yang dialami Miki banyak terjadi di sekitar kita atau bahkan sekarang tengah kita alami, terombang–ambing oleh perasaan hampa yang kita miliki tanpa alasan jelas.
Turunnya kepercayaan orang lain terhadap kita secara perlahan maupun drastis dapat membuat hidup kita goyang dan melahirkan rasa kurang percaya diri. Rendahnya pengakuan pihak lain atas kemampuan yang kita miliki menimbulkan rasa khawatir, dan itu adalah satu hal yang lumrah.

Teman-teman di kota Malang sekalian, kalau fenomena itu sudah terjadi, saya yakin semua dari kita tidak menginginkan itu terus terjadi. Kalau sudah terlanjur, mau tidak mau keteguhan pribadi Miki perlu kita jadikan contoh.


Kesabaran dan keteladanan semut kecil ini mampu menggugah dan menciptakan pemikiran besar yang berdampak positif. Apa yang sudah dilakukan Miki tidak ada salahnya kita tiru. Kalau keberanian, keyakinan dan ketangguhan kita miliki, pastilah akan melahirkan pribadi tangguh. Setangguh berbentuk apa dan dimana-pun berada .*

Selasa, 03 Februari 2009

Twilight: Humanisme Vampir dan Werewolf

Stephanie Meyer menghadirkan titik singgung antara tradisi Vampir dan Werewolf. Vampir tak selamanya kejam. Werewolf tak layak kita hukumi sebagai pendosa. Keduanya juga mengenal cinta humanis, tatkala bertemu dengan Bella (Isabella Swan).

Edward sang Vampir, kaya raya sejak berabad-abad lalu. Ia berkarakter primus selayaknya pemuda yang cool dan lahir dengan sendok emas. Di balik kemegahan harta, ia harus menahan nafas untuk tidak memangsa manusia.

Jacob, anak muda yang hobi dengan otomotif harus menerima takdir sebagai Werewolf. Utak-atik mobil dan motor dalam sekilas waktu tertentu, tergantikan dengan bergeraknya hawa panas sekujur tubuh untuk menjadi serigala. Menghirup angin yang membawa aura Vampir. Bersiap-siap untuk memangsa.

Keduanya, Vampir dan Werewolf bertemu dengan Bella. Sosok manusia yang ingin menjadi Vampir dan berteman dengan Werewolf. Sesungguhnya, Bella tak ingin "menjadi Vampir", tapi sekedar hidup selamanya dengan Edward. Bila teman-teman hafal alur novel Twilight, maka keinginan itu sempat tertunda karena Edward meninggalkan Bella --seiring angin menelusup pepohonan di hutan.

Pesan langsung dari sang novelis adalah CINTA. Cinta yang terlarang. Cinta yang tak mengenal jalan kembali. Selain menjadi hidup dan sekaligus mati pada saat yang sama. Lembar terakhir novel Twilight mengernyitkan dahi kita bahwa gigi tajam itu akhirnya menekan leher Bella.

Dimanakah cinta pada saat taring tajam nan dingin bak porselen itu menekan leher manusia?

Nietzsche pada pesan 295 Beyond Good and Evil, menulis tentang genius hati. Jenis hati milik para dewa yang tahu bagaimana masuk ke dalam setiap jiwa. Tanpa mengucapkan kata-kata atau pun memberikan tatapan sekilas tanpa memiliki sesuatu yang menarik.

Nietzsche mengapresiasi Dionysus dan sampailah ia pada bentuk manusia yang Lebih Kuat, Lebih Dalam, Lebih Jahat dan ...... Lebih Indah..." Kira-kira, begitulah postur Edward dan Jacob yang Lebih Kuat, Lebih Dalam, Lebih Jahat dan Lebih Indah, ketimbang manusia biasa yang berlagak Adi-Manusia.

Apresiasi atas pesan-pesan cinta dalam Twilight dapatlah meluber kemana-mana. Satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana kata-hati Isabell bergaung ketika menempuh jalan hidup yang penuh marabahaya. Kata-hati yang dikiranya dari Edward, ternyata berasal dari dirinya sendiri.

Kata-hati itu bergema untuk menyapa teman, kerabat, saudara dan kerabat maya kita dimana-mana. Saya sering berpikir bagaimana saya bisa membantu mereka untuk terus melangkah dan membuat mereka lebih kuat, lebih dalam dan .... lebih indah, dari mereka sekarang.

Suatu langkah biasa tanpa absurditas Twilight...

Minggu, 01 Februari 2009

Facebook & KLA Project Return: "Someday..."

COVER dengan style Batman






Siapa sangka dengan bekal Facebook, http://www.klaproject.com, KLa mampu memperoleh vokalis rap yang mendukung performa baru di album KLa Returns? Situs jejaring sosial Facebook sekali lagi bermanfaat untuk peningkatan kapasitas musisi di Indonesia.

Hal unik kita jumpai dalam album baru KLA. Lirik lagu tidak puitik yang mengerutkan dahi. Makna tertera langsung di benak kita, seperti mayoritas lirik lagu pop akhir-akhir ini. Sekalipun, barisan lirik silih berganti terujar dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Plus, pelafalan lirik dengan rap style.
sekilas kulihat
senyumanmu untuk ku
walau saat itu, kau belum mengenalku
someday i will tell you
cerita tentang diriku
sejak waktu itu
hati kecil bicara
dunia kan indah
bila kita bersama
someday i will get you
it doesn't matter what you say
oh sungguh kau merampas hati

.....reff
.....rap

Satu gebrakan yang unik adalah penempatan unsur pop sebagai landasan, dan rap hadir di tengah-tengahnya. Progresi berjalan dengan lancar, dan...saat kita dengar rapper Christoper Aguilar: wah, lagu Someday baru terasa nge-beat.

Vokal mas Katon nyaris tak terganggu ketika Christoper Aguilar melafalkan sekian baris lirik. KLa cerdas dalam membuat lagu yang sederhana. Dengan Someday, komposisi album KLa terasa apik dalam memainkan tempo dan beat dari dua unsur kebudayaan (pop dan rap).

Kupercaya terjadi .... Someday you'll be mine ...