
sumber gambar: http://ini-upik.blogspot.com
Hatur nuwun untuk blogger malang http://ini-upik.blogspot.com.
Karya fotonya menarik bila kita lihat dari sisi "depan". Seorang pengendara sedang bergegas ke kanan. Entah kemana tujuannya, yang kita pahami adalah ia tengah melaju ke arah masa depannya.
Tampil sebagai fokus adalah bangunan yang tegak menjulang berwarna putih. Tebak, bangunan itu ada di daerah mana...
Apakah kita pernah berpikir, bagaimana arsitek dan fotografer mengambil momen tentang bangunan itu? Selintas, bangunan di pojok itu mengajak kita untuk menjaga jarak dari jalan raya dan merenungkan apa yang akan kita buat di masa depan.
Kemampuan melihat masa depan, niscaya bisa kita miliki dengan olah pengetahuan tertentu. Contoh lain, selain fotografi, terdapat hibriditas antar pengetahuan statistik dan politik yang menghasilkan teknik quick count. Sehingga masa depan kuantitas suara dapat terketahui lebih awal.
Melalui jaan "sufi", melihat masa depan bukanlah mustahil. Peleburan diri dengan-Nya membuat segala realitas dengan cepat sekali berpindah ke realitas lain. Sampai-sampai, kepasrahan kepada-Nya membuat kita tak sanggup menanggung keterleburan itu.
Lantas, mengapa "masa depan" itu perlu dilihat atau bahkan diretas sedemikian rupa?
Kita dapat memandang masa depan sebagai gagasan atau kenyataan yang absolut. Meski untuk meretasnya hanya bisa diperoleh secara patah-patah, tidak lengkap, dan melalui upaya batin yang ajeg dan terus menerus.
- Bisa jadi, masa depan adalah gagasan kera ngalam yang tersusun bersama-sama melalui percakapan (jonggringan) di warung kopi, dan blog ini.
- Bisa pula, masa depan adalah kenyataan yang dihadapi tiap-tiap individu kera ngalam di esok hari, kala matahari terbenam dan bulan sabit terbit.
"Meretas Masa Depan Bersama", dalam konteks Hukum dan Sejarah, merupakan tindakan untuk men-jonggring-kan sesuatu yang sudah diselesaikan atau yang sudah terjadi. Masing-masing rasa yang tertanam di kera ngalam, dapat meng-obrol-kan bangunan yang tegak berdiri itu (karya fotografi "upik"). Menara bergurat warna merah-hati menjadi titik berdiri kita untuk meretas masa depan yang entah bagaimana pun bentuk konkretnya.
Kaum muda kera ngalam sanggup meretas masa depan dengan minim kata. Visualisasi atas masa depan melalui fotografi, adalah contoh bagaimana kita memulai sesuatu untuk melaju ke masa depan.
Ibarat, pengendara sepeda motor dalam karya fotografi upik....



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Alamat Blog untuk Silaturrahim