Jumat, 03 April 2009

Kiai Berpolitik Diperdebatkan

Senin, 30 Maret 2009 Jawa Pos
MALANG - Bedah buku Kiai di Tengah Pusaran Politik, karya Ibu Hajar, di aula SMKN 2 Kota Malang kemarin berlangsung seru. Sejumlah pembicara memperdebatkan isi buku tersebut.

Kamilun Muhtadien misalnya, kurang sepaham dengan penulis yang pada awal-awal bukunya memaparkan tentang keagungan kiai, tetapi di belakang-belakangnya justru merobohkan kiai itu. "Tidak semua kiai seperti itu, masih banyak kiai yang baik," ujar mantan Kadis Pendidikan Kabupaten Malang ini.

Dalam kesempatan itu, dia juga menilai tidak ada salahnya seorang kiai berpolitik. Karena pada zaman perjuangan dulu sejumlah kiai juga terjun di dunia politik dan tetap bisa mempertahankan moralnya. "Menurut saya Islam itu tidak alergi politik," ujarnya santun.

Kamilun mengatakan, seorang kiai yang kerap berhubungan dengan masyarakat dinilai banyak tahu dengan persoalan yang dialami masyarakat. Untuk itu, jika memang kiai memutuskan berpolitik, maka tujuan utama itu harus diperjuangkan, bukan karena tujuan materi.

Namun, Kamilun juga kurang setuju jika ada seorang kiai yang terjun ke dunia politik hanya untuk mendapatkan materi. Kemudian mengikutkan para santrinya dalam dunia politik praktis. Karena pilihan politik adalah pilihan pribadi.

Sementara pembicara yang lain, Robikin Emhas lebih pro dengan penulis buku. Menurut dia, kiai yang terjun ke politik dengan tujuan yang tidak benar bisa menurunkan derajatnya. Sehingga, fatwa-fatwa yang disampaikan kurang atau bahkan tidak dipercaya umat. Untuk itu, para kiai harus berpikir lebih dalam sebelum memutuskan ke belantara politik praktis.

Menurut dia, dalam sejarah, para kiai dulu tida pernah terikat dengan pemerintah. Karea para kiai memiliki sawah dan ladang untuk digarap dan hasilnya untuk membiayai para santri. Para santri yang mengaji kepada kiai tidak dipungut biaya. Saat ini hal semacam itu jarang ditemukan. (lid/war)

Hukum Belum Memihak Masyarakat Desa






Selasa, 10 Maret 2009 17:53:05 - oleh : redaksi

Dengan pengalaman cukup panjang di bidang hukum -baik sebagai pengacara, advokat, maupun konsultan-, niatan tulus Robikin Emhas untuk nyaleg tidak lepas dari semangat yang tinggi untuk mereformasi hukum di Indonesia. Menurutnya hukum di negeri ini masih diwarnai oleh kepentingan kekuatan politik sehingga mengorbankan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

“Mulai dari pembuatan, pelaksanaan, hingga penegakan, hukum masih kalah oleh politik dan kekuasaan. Hukum belum mampu memberi kedaulatan bagi masyarakatnya sendiri, ini harus direformasi,” jelas Sekretaris Lakumham DPP PKB ini.

Lebih khusus, bapak tiga anak ini menilai bahwa hukum belum berpihak pada masyarakat pedesaan yang di Indonesia jumlahnya hampir 67 persen. “Masyarakat pedesaan itu mayoritas bergerak di bidang pertanian, perkebunan, dan perikanan. Namun perangkat hukum yang ada sekarang belum mampu mendorong agar kesenjangan hidup masyarakat pedesaan dan kota tidak jauh ketimpangannya,” ungkap Robikin. .mas-KP

500 Guru Ngaji Digembleng BCM






Senin, 02 Maret 2009

DAMPIT - Sebanyak 500 guru ngaji se-Kabupaten Malang digembleng metodologi pembelajaran Alquran. Dalam acara yang diselenggarakan di Masjid Baiturrahim, Dampit ini, para guru TPQ, madrasah serta pondok pesantren itu diharapkan mampu memberikan model pembelajaran yang efektif dan mudah dipahami. "Kami ingin para guru ngaji juga mengikuti perkembangan model pembelajaran," ujar Ustad Zaenal Arifin, panitia penyelenggara kegiatan dari Forum Peduli Assyuro Kabupaten Malang.

Zaenal mengatakan, selama ini para guru ngaji masih banyak yang menggunakan model lama dalam pembelajaran. Sehingga perlu ada tambahan wawasan baru. Supaya para anak didik bisa menyerap pelajaran dengan baik. Zaenal menambahkan, dalam kegiatan itu mereka diberi materi bermain cerita menyanyi (BCM).

Materi ini diutamakan bagi para guru TPQ yang mengajar anak-anak kecil. Karena, cara-cara tersebut sesuai dengan dunia anak kecil. "Jadi mengajar anak kecil tidak boleh keras dan kaku, harus bisa bermain dan bercanda," ujar alumni UIN Malang ini.

Kabag Bina Mental dan Kerohanian Kabupaten Malang Hafi Lutfi mengatakan, kegiatan semacam itu perlu dilakukan kepada para guru ngaji. Karena mereka adalah benteng moralitas masyarakat. Dia berharap, kegiatan semacam ini bisa diadakan secara rutin.

Menurut dia, pemkab sangat berharap peran paa guru ngaji dan pendidik agama untuk ikut membangun moral masyarakat. Selain materi BCM, mereka juga mengikuti seminar pendidikan yang disampaikan oleh Ustad M Arifin, Nur Hidayatul Choir, serta
Robikin Emhas.

Dalam kesempatan tersebut, Robikin menilai bahwa peran guru ngaji dalam ikut andil mencerdaskan anak tidak boleh disepelekan. "Justru dari guru ngaji ini muncul bibit-bibit generasi muda sebagai penjaga moral di masyarakat," kata Robikin. (lid/ziz)

Peraturan Pemerintah tentang Guru





Senin, 16 Maret 2009 19:32:54 - oleh : redaksi
Sebagai perangkat pelaksana, materi dalam PP No 74 tahun 2008 tentang Guru sedikit melenceng dari aturan induk yaitu UU No 15 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Aturan yang ditabrak itu terkait persyaratan guru dalam program sertifikasi. Pada pasal 9 UUGD tegas disebutkan bahwa kualifikasi akademik guru dalam sertifikasi adalah program sarjana atau program diploma empat.

Sementara dalam PP tersebut terdapat peluang bagi guru yang belum S1/DIV untuk bisa mengikuti sertifikasi. Memang ada persyaratan tambahan bagi guru dalam kategori ini, yaitu mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru. Aturan ini dalam PP termaktub dalam poin peralihan dan sifatnya hanya transisi untuk jangka waktu lima tahun mendatang (2015 –red).

Dalam pandangan praktisi hukum Robikin Emhas, seharusnya materi dalam PP ini tidak boleh bertentangan dengan UUGD. Sebab dalam hukum dikenal asas ‘lex superior derogat lex infererior’ atau peraturan yang lebih tinggi mengalahkan aturan yang lebih rendah. “Berdasarkan hirarki peraturan perundangan, kedudukan UU itu lebih tinggi dibanding PP. PP adalah aturan penjabar UU jadi tidak boleh bertentangan,” jelasnya.

Disinggung tentang kemungkinan terjadinya pembatalan (demi hukum) atas segala proses yang merujuk pada PP ini, Robikin menegaskan bila hal itu tidak dengan sendirinya bisa gugur. Kecuali mekanisme judicial review ditempuh melalui gugatan dan sudah ada keputusan resmi terkait uji perundangan tersebut. Sennyampang belum ada, segenap proses yang terjadi tidak bisa gugur dengan sendirinya.

“Gugatannya bukan ke Mahkamah Konstitusi sebab kewenangannya hanya memeriksa UU yang bertentangan dengan UUD 1945 atau UU yang bertentangan dengan UU. Kalau dalam hal PP bertentangan dengan UU, maka judicial review nya diajukan ke Mahkamah Agung. Sepanjang tidak ada gugatan maka kedudukan PP tersebut masih harus dianggap berlaku sebagaimana adanya,” tegas pengacara yang tengah nyaleg DPR Pusat ini

Meski secara materi ada pertentangan, namun Robikin amat mengapresiasi gagasan untuk mengakomodasi pemberian rukhshoh, keringanan syarat bagi yang sepatutnya diberi penghargaan. Ini tidak lepas sebagai wujud apresiasi terhadap bakti yang sudah ditunaikan oleh. “Tapi akan lebih baik bila pengaturannya tidak perlu menabrak aturan yang lebih tinggi,” tegasnya .mas-KP

Kamis, 26 Februari 2009

Perlu Reformasi Hukum dan Sisdiknas






Selasa, 17 Februari 2009 20:35:39 - oleh : redaksi


TINGGINYA jumlah anak usia sekolah –SMP,SMA, bahkan SD- yang sudah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, patut ditelusuri akar permasalahan serta faktor pendorongnya. Menurut Robikin Emhas SH MH, praktisi hukum asal Malang, terdapat kelemahan sistematis pada bidang pendidikan dan penegakan hukum yang secara tidak langsung menjadi akar masalah sekaligus faktor pendorong fenomena tersebut.

Pada bidang hukum, misalnya. Dalam sistem hukum kita, yang disebut dengan perzinahan adalah apabila salah satu atau kedua pelakunya sudah menikah. Hal ini membuat orang yang belum menikah, termasuk anak usia sekolah, bisa bebas dari jerat hukum bila melakukan zina. Bila ditelusuri, dasar hukum ini merupakan warisan Belanda yang hingga saat ini belum berubah.


“Perlu ada reformasi hukum yang substansinya didasarkan pada nilai-nilai yang hidup di masyarakat kita, seperti nilai agama, nilai sosial, budaya, dan moral. Termasuk pemahaman soal perzinahan tadi,” ujar Robikin.

Di samping soal substansi hukum yang perlu direformasi, pengacara senior yang kini ikut nyaleg (menjadi caleg) DPR Pusat ini menekankan penegakan hukum harus dilakukan dengan tegas dan berani. Sebagai contoh, salah satu pendorong perilaku seks bebas di kalangan remaja adalah pengaruh media massa, seperti majalah dan film porno serta internet. Secara hukum sudah ada aturan bahwa media massa yang memuat informasi khusus dewasa tidak bolah dikonsumsi oleh anak di bawah umur, termasuk anak usia SMP dan SMA, apalagi SD.

“Aturan ini sudah ada, hanya penegakan hukum yang kurang maksimal. Kalau hal ini bisa dilakukan, saya yakin mampu menekan peluang dan potensi terjadinya hubungan seksual di luar nikah,” jelas alumnus Unmer dan Universitas Brawijaya Malang ini.


Lebih dari itu, bidang pendidikan juga berperan sangat penting dalam menekan perilaku seks usia sekolah. Salah satunya pada metode pembelajaran yang hendaknya lebih partisipatif dan berbasis pada realitas sosial. Siswa tidak lagi harus takut bahkan sulit memahami realitas sosial, hanya karena pendidik yang kurang terbuka atau bahkan minim pengetahuan.


“Pada pendidikan seks misalnya, siswa harus mendapat informasi dari hilir sampai hulunya. Sehingga mereka tahu persis informasi itu termasuk kerugian-kerugian bila mereka melakukan hubungan seksual,” pungkas Robikin Emhas.
.mas-KP


Senin, 16 Februari 2009

Perubahan atas Diri Bunga Mawar

Sesekali, bunga mawar itu tersentak lamunannya sendiri.

Ada kerikil berduri yang membuat hatinya terus resah tiap kali mengingat peristiwa terdalam di ruang hatinya.

Ia meneteskan air mata. Carut marut suasana kalbu sore itu.

Entah, barangkali ini adalah cerita terbaik yang menjadi takdir dalam hidupnya. Ketika ia merasa pongah dengan kemolekan tubuhnya, maka kehidupannya hancur diluluh-lantakkan peristiwa alam yang tidak bersahabat sama sekali. Bayangkan saja, sekian banyak tanaman mawar yang selama ini menutupi lembah dan membentuk pesona, porak poranda terserang banjir bandang.

Hampir semuanya terhanyut dan busuk karena amukan air bah tanpa ampun sama sekali. Benar-benar kacau…….

Hhmmm….sang mawar mendesah pelan. Kenapa harus seperti ini? Punah. Tapi entahlah, insting sang mawar selalu mengatakan kalau musibah itu terjadi akibat kesombongan yang memuncak, dahsyat dan tak terkalahkan. Kini, investasi keburukan itu menuai luka perih yang membuatnya terus berfikir untuk selalu mohon maaf. Entah kepada siapa, apa dan mengapa. Hanya Tuhan yang tahu ……

Alkisah di sebuah ladang di bawah Gunung Merapi daratan Jawa, terdapat hamparan berbagai bunga yang luas. Semuanya memancarkan pesona yang indah. Ada bunga mawar berbagai jenis yang sungguh indah dan molek yang kadangkala begitu sombong memamerkan kecantikannya kepada bunga–bunga lain. Selalu saja ia menganggap dirinya adalah bunga terindah di dunia, bentuknya yang besar, halus, wangi dan mulus seakan membuat siapapun yang melihat ingin memetiknya. Belum lagi warna warni yang dimilikinya begitu beragam mulai dari merah, jingga, kuning, putih, pink dan masih banyak lagi lainnya.

Kehadiran puluhan bunga mawar tentu saja membuat bunga lainnya iri. Apalagi jumlah yang berbunga makin hari semakin banyak, keadaan ini semakin membuat mawar congkak dan menciutkan hati bunga–bunga di sekitarnya.

Selang beberapa waktu kemudian, muncullah sebuah peristiwa yang menyedihkan. Di saat musim hujan tiba, semua bunga sibuk menyelamatkan diri. Bunga–bunga kecil berupaya melindungi diri agar tidak dimakan badai. Mereka sadar kekuatan yang dimilikinya tidak sebesar bunga lainnya. Begitu hujan lebat datang, hiruk pikuk terdengar jeritan bunga–bunga di lembah itu.

“Ya Tuhan, masihkah kau beri umur panjang diriku ini,“ terdengar rintihan bunga pukul sembilan begitu pilu.

Tidak ada yang peduli dengan rintihan itu. Mereka saling mendekap erat tubuh kecilnya dengan air mata berlinang. Ia coba untuk tetap bertahan diterpa derasnya air hujan yang begitu angkuh menjatuhkan diri ke bumi. Belum lagi rasa sakit di hatinya sirna, bunga mawar terlihat tertawa mengejek bunga pukul sembilan. Dengan nada congkak ia berkata: “Kasihan sekali kau bunga kecil, hidupmu tidak akan bertahan lama, coba aja kau amati, hampir tiap hari tubuhmu diinjak–injak manusia atau hewan." Bungamu juga tidak indah sepertiku, yang selalu jadi kebanggaan wanita. Mereka yang melihat pasti berdecak kagum, tersenyum dan ingin menyentuh bahkan mengambilku sebagai penghias ruangan.

Bunga pukul sembilan semakin sedih mendengar kalimat mawar, tidak ada satu jawaban pun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa bertahan di tengah–tengah hujan lebat dan memohon perlindungan Allah. Ia berfikir percuma membantah kalimat bunga mawar, pasti ia kalah dengan keganjilan nalar bunga mawar.

Akhirnya bunga pukul sembilan membiarkan mawar terus menghina. Lama–lama dianggapnya ocehan itu seperti dongeng pengantar tidur. Lama kemudian ia tertidur pulas, lelap dibuai mimpi.

Esok harinya, saat matahari mulai mengangkangi bumi, bunga pukul sembilan mulai terbangun. Tubuhnya yang mungil bergeliat manja di atas hamparan bumi yang indah. Dengan mengerjap mata, bunga pukul sembilan berusaha mengingat kembali berbagai peristiwa yang terjadi sebelum ia tertidur lelap.

Tiba – tiba ia teringat temannya si bunga mawar, didongakkan kepala ke kanan dan kiri, tidak terlihat bunga mawar sama sekali. Lho, kemana mereka ya …? Bukannya mereka kemarin berdiri tegap mempertontonkan keindahan tubuhnya pada hujan seolah ingin menantang hujan. Kemana bunga yang angkuh itu ya?

Terus saja mata si bunga pukul sembilan mengamati situasi di sekelilingnya , dan…“ Ya Tuhan, apa yang telah terjadi…..?” Mata bunga pukul sembilan begitu membelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Batinnya begitu trenyuh. Ya Tuhan , peristiwa apa yang telah terjadi di sekitarku ini. Ratusan bunga mawar berjatuhan porak poranda, semuanya hancur. Bunga mawar merah yang kemarin mengejeknya sekarang sudah jadi mayat, hancur lebur dan bau busuk mulai menyebar ke semua tempat. Situasi benar–benar kurang menyenangkan.

Semua binatang dan tumbuhan yang masih hidup sibuk menutup hidung masing–masing. Menurut cerita yang didengar bunga pukul sembilan, kemarin sore di daerah itu terserang banjir hebat. Puluhan orang–orang sibuk menyelamatkan diri. Hamparan bunga mawar yang panik menjadi korban injakan kaki manusia, dan akibatnya mereka tidak mampu mempertahankan diri dan roboh karena keadaan.

Bunga pukul sembilan termangu. Sebenarnya dia pun terkena banjir tapi akarnya dan tubuhnya yang mungil begitu kuat menancap di bumi. Meski diinjak–injak manusia tetap saja di bawah alam bawah sadarnya ia berusaha menyelamatkan diri menghadapi bencana yang datang. Dalam mimpi pun ia tetap lincah dan fleksibel mengatasi berbagai kesulitan.

***

Teman-teman Blogger Malang yang budiman, disadari atau tidak di dalam hidup ini kita senantiasa dihadapkan pada banyak sekali peristiwa. Mulai dari yang menyenangkan sampai menjengkelkan. Mulai dari kebahagiaan, kegelisahan sampai dengan derajat kebosanan yang menjenuhkan. Diantara kita ada yang kuat tapi lebih banyak yang merasa putus asa bahkan nyaris nekat mengakhiri hidupnya.

Narasi tentang mawar dan bunga pukul sembilan membuahkan samudra hikmah.

Pertama, mengenai si bunga mawar yang begitu indah dan molek yang membuat iri hampir semua bunga lain yang melihatnya. Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah kita terlahir di dunia ini dengan kondisi fisik yang sudah ditentukan, tidak bisa memilih harus begini harus begitu, harus menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Suatu misal kita menginginkan hidung kita lebih dari satu dengan harapan agar udara yang kita hirup terlalu banyak dan badan kita menjadi lebih sehat. Keinginan itupun mustahil kita harapkan karena semua yang ada diri kita merupakan pemberian Tuhan. Untuk proses kelahiran jabang bayi, manusia hanya bisa berusaha dan berharap agar sesuai keinginan sementara hasil jadinya Tuhan yang menentukan .

Syukurlah kalau kita terlahir menjadi mahluk yang indah, cantik, menawan. Namun kalau kita terus terlena, kondisi ini bisa membuat kita tinggi hati, kurang menghargai sesama dan membuat orang lain kurang menghargai kita karena ketidakmampuan untuk mensyukuri segala nikmat yang kita terima. Apabila kondisi ini terus terjadi maka akan membawa dampak yang kurang bagus bagi diri sendiri yang dikhawatirkan memberi pengaruh kepada orang lain.

Kedua, apa yang akan terjadi jika rumput kita injak setiap hari, tiba–tiba menghilang dari permukaan bumi. Tanduskah alam di sekitar kita? Apa yang ada di benak kita memberi dampak positif atau negatif kondisi ini. Kondisi yang kecil, baik itu berupa fisik, atau ketidak mampuan kita akan satu hal seringkali membuat kita minder. "Aku nggak mampu begini, nggak mampu begitu, biar saja hidupku begitu. Lebih baik aku jadi orang pasif aja daripada ditertawakan orang...

Terus menerus kita sibuk memvonis berbagai kekurangan yang ada di dalam diri kita. Berhari-hari, berbulan–bulan bahkan bertahun–tahun kondisi ini terus terjadi. Sehingga tidak ada ruang dan waktu di dalam hidup kita untuk memahami potensi yang kita miliki, mudah menyerah dan kurang bisa menghargai jiwa kita.

Entah sampai kapan kita akan memperlakukan diri kita seperti itu. Jika kita ingin semua kondisi berjalan tetap dan tidak ada perubahan biarlah semuanya berjalan tanpa perubahan. Namun jika kita ingin hidup kita lebih baik, ada saatnya kita belajar bersyukur dengan kondisi fisik kita.

Tuhan punya maksud baik di balik penciptaan manusia dan tidak ada yang sia–sia. Jadi saudaraku, berhentilah mengeluh, bersyukur dan galilah potensi yang ada dalam diri kita. Apapun yang terjadi, pasti ada hikmah di balik semua perjalanan hidup kita.

Minggu, 15 Februari 2009

Miki & Paradigma Semut Merah

"Tttuuuiitt……tuuuit…ttuuiitt…."

Ach ! itu pasti seruling Miki, tanda panggilan untuk para sahabat terkasih. Seruling kayu yang menandakan kedekatan musik dan alam.

Tak lama kemudian keampuhan seruling itu terbukti. Satu persatu anak semut mengerumuni Miki. Mereka mengelilingi sahabat yang selama ini dielu–elukan karena banyak membantu saat menguliti masalah kehidupan. Miki memang luar biasa, tubuhnya yang rapuh dan penuh dengan ketidaksempurnaan, tidak mampu membelenggu potensi yang ada. Seperti kacang tak lupa kulitnya, Miki pun demikian halnya, mencoba memaknai diri apa adanya dan memahami kondisi yang ada. Dengan terlahir dari keluarga yang kurang beruntung, ia coba berdiri setelah seribu kali terjatuh, guna menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi diri sendiri di tengah cemoohan yang tak berserat.

Kini impian itu nyata. Meraup sejumlah pengharapan yang indah. Miki memang luar biasa, begitupun anda, pembaca cerita ini.

Pagi itu seperti biasa, Miki, anak dari keluarga semut pasangan bapak/ibu Miki, sedang asyik bermain lompat–lompatan. Kali ini dia sendiri tidak ditemani siapapun. Mungkin karena terlalu pagi dia bermain, kala teman–teman lain masih membantu ibunya di rumah.

"Ah, masih jam 07.00, paling teman–teman sebentar lagi datang". Sambil menunggu teman–temannya , ia membunuh waktu dengan memainkan seruling buatannya sendiri. Seruling kecil dari bambu pendek yang pas untuk ukuran mahluk sebesar Miki "Wiiitt……..tuuuitt….tuiiitt….ttt" seruling Miki terdengar mendayu–dayu, mengalun bersama angin, perlahan mengarahkan ke telinga teman–teman Miki.

Mereka tahu itu pertanda panggilan dari ketua kelompoknya. Selalu saja kalau mau bermain dengan teman–temannya, ia datang duluan karena setiap pagi dirinya bangun paling pagi dibandingkan teman–teman.
Hampir semua teman–teman dari keluarga semut melakukan hal yang sama yakni bangun tidur dan langsung membantu ibu. Miki menjadi panutan karena dianggap paling disiplin serta memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin kelompok anak semut merah. Hampir setiap hari, Miki mengajak kesepuluh sahabatnya bermain selain juga memecahkan antar mereka secara kompak.

Kepiawaian Miki dalam mengelola pertemanan itu membuat keberadaannya diakui oleh teman dan orang tua semut. Bahkan para orangtua merasa aman bila anaknya bermain bersama Miki.
Kadangkala bila mengingat masa lalu, sambil main seruling Miki sering meneteskan air mata. Dulu ia dan keluarganya sering jadi bahan cemoohan para semut.

Asal usulnya dari keluarga miskin membuat mereka memperlakukan seenaknya. Dengan kondisi apa adanya mereka terluka hingga kehidupannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain akibat terusir. Tidak ada satu komunitas semut pun yang mau menerima dan memandangnya sebelah mata. Ia dianggap membawa sial berkaitan dengan problema yang sering melanda keluarga Miki.

Hingga akhirnya pada suatu ketika, Miki sebagai anak tertua berusaha bangkit. Ia jengah keluarganya terus jadi bahan cemoohan. Ia berjanji pada alam dan diri sendiri, memutar kecepatan otak guna membuat suatu komitmen akan menjelma jadi sosok semut yang bisa menjadi contoh bagi anak semut lainnya. Keyakinannya begitu besar, ia percaya keyakinan bisa melahirkan keajaiban. Di benak Miki terus terngiang–ngiang ucapan sang paman yang yakin bila keponakannya dapat menjadi pribadi yang positif. Hidupnya mampu memberi kemanfaatan bagi lingkungannya. “Yakinlah , apa yang kamu pikirkan bisa jadi kenyataan, untuk itu kamu harus memiliki kekuatan pribadi yang tangguh guna mempertahankan keinginannya...".

Saya merasa, kita dapat mengubah paradigma kerumunan semut yang tadinya memandang sebelah mata (under estimate) hingga beringsut angkat topi. Tanda setuju memproklamirkan keluarga Miki sebagai keluarga panutan. Seiring berjalannya waktu, keteguhan dan ketangguhan hati Miki membuahkan hasil. Dibarengi dengan sikap–sikap positif dan rasa empati terhadap semut lain. Miki akhirnya dipercaya oleh teman–teman sebagai pemimpin mereka yang siap membawa mereka menjadi pribadi yang baik.

Bahkan menurut rencana, bila sudah besar nanti kelompok semut akan memproklamirkannya sebagai raja karena sejak kecil Miki memiliki pribadi positif, tangguh dan kuat, dipercaya bisa mengangkat harkat serta martabat kelompok mereka.


***

Pesan moral si Miki cukup menyentil kalbu kita. Dengan sosoknya yang kecil, lemah, di balik itu ternyata dia memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Keinginan tulusnya untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga yang menjadikan dirinya berpuluh–puluh tingkat lebih, kini tercapai sudah. Bila sejenak kita berfikir, sebenarnya kondisi yang dialami Miki banyak terjadi di sekitar kita atau bahkan sekarang tengah kita alami, terombang–ambing oleh perasaan hampa yang kita miliki tanpa alasan jelas.
Turunnya kepercayaan orang lain terhadap kita secara perlahan maupun drastis dapat membuat hidup kita goyang dan melahirkan rasa kurang percaya diri. Rendahnya pengakuan pihak lain atas kemampuan yang kita miliki menimbulkan rasa khawatir, dan itu adalah satu hal yang lumrah.

Teman-teman di kota Malang sekalian, kalau fenomena itu sudah terjadi, saya yakin semua dari kita tidak menginginkan itu terus terjadi. Kalau sudah terlanjur, mau tidak mau keteguhan pribadi Miki perlu kita jadikan contoh.


Kesabaran dan keteladanan semut kecil ini mampu menggugah dan menciptakan pemikiran besar yang berdampak positif. Apa yang sudah dilakukan Miki tidak ada salahnya kita tiru. Kalau keberanian, keyakinan dan ketangguhan kita miliki, pastilah akan melahirkan pribadi tangguh. Setangguh berbentuk apa dan dimana-pun berada .*

Selasa, 03 Februari 2009

Twilight: Humanisme Vampir dan Werewolf

Stephanie Meyer menghadirkan titik singgung antara tradisi Vampir dan Werewolf. Vampir tak selamanya kejam. Werewolf tak layak kita hukumi sebagai pendosa. Keduanya juga mengenal cinta humanis, tatkala bertemu dengan Bella (Isabella Swan).

Edward sang Vampir, kaya raya sejak berabad-abad lalu. Ia berkarakter primus selayaknya pemuda yang cool dan lahir dengan sendok emas. Di balik kemegahan harta, ia harus menahan nafas untuk tidak memangsa manusia.

Jacob, anak muda yang hobi dengan otomotif harus menerima takdir sebagai Werewolf. Utak-atik mobil dan motor dalam sekilas waktu tertentu, tergantikan dengan bergeraknya hawa panas sekujur tubuh untuk menjadi serigala. Menghirup angin yang membawa aura Vampir. Bersiap-siap untuk memangsa.

Keduanya, Vampir dan Werewolf bertemu dengan Bella. Sosok manusia yang ingin menjadi Vampir dan berteman dengan Werewolf. Sesungguhnya, Bella tak ingin "menjadi Vampir", tapi sekedar hidup selamanya dengan Edward. Bila teman-teman hafal alur novel Twilight, maka keinginan itu sempat tertunda karena Edward meninggalkan Bella --seiring angin menelusup pepohonan di hutan.

Pesan langsung dari sang novelis adalah CINTA. Cinta yang terlarang. Cinta yang tak mengenal jalan kembali. Selain menjadi hidup dan sekaligus mati pada saat yang sama. Lembar terakhir novel Twilight mengernyitkan dahi kita bahwa gigi tajam itu akhirnya menekan leher Bella.

Dimanakah cinta pada saat taring tajam nan dingin bak porselen itu menekan leher manusia?

Nietzsche pada pesan 295 Beyond Good and Evil, menulis tentang genius hati. Jenis hati milik para dewa yang tahu bagaimana masuk ke dalam setiap jiwa. Tanpa mengucapkan kata-kata atau pun memberikan tatapan sekilas tanpa memiliki sesuatu yang menarik.

Nietzsche mengapresiasi Dionysus dan sampailah ia pada bentuk manusia yang Lebih Kuat, Lebih Dalam, Lebih Jahat dan ...... Lebih Indah..." Kira-kira, begitulah postur Edward dan Jacob yang Lebih Kuat, Lebih Dalam, Lebih Jahat dan Lebih Indah, ketimbang manusia biasa yang berlagak Adi-Manusia.

Apresiasi atas pesan-pesan cinta dalam Twilight dapatlah meluber kemana-mana. Satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana kata-hati Isabell bergaung ketika menempuh jalan hidup yang penuh marabahaya. Kata-hati yang dikiranya dari Edward, ternyata berasal dari dirinya sendiri.

Kata-hati itu bergema untuk menyapa teman, kerabat, saudara dan kerabat maya kita dimana-mana. Saya sering berpikir bagaimana saya bisa membantu mereka untuk terus melangkah dan membuat mereka lebih kuat, lebih dalam dan .... lebih indah, dari mereka sekarang.

Suatu langkah biasa tanpa absurditas Twilight...

Minggu, 01 Februari 2009

Facebook & KLA Project Return: "Someday..."

COVER dengan style Batman






Siapa sangka dengan bekal Facebook, http://www.klaproject.com, KLa mampu memperoleh vokalis rap yang mendukung performa baru di album KLa Returns? Situs jejaring sosial Facebook sekali lagi bermanfaat untuk peningkatan kapasitas musisi di Indonesia.

Hal unik kita jumpai dalam album baru KLA. Lirik lagu tidak puitik yang mengerutkan dahi. Makna tertera langsung di benak kita, seperti mayoritas lirik lagu pop akhir-akhir ini. Sekalipun, barisan lirik silih berganti terujar dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Plus, pelafalan lirik dengan rap style.
sekilas kulihat
senyumanmu untuk ku
walau saat itu, kau belum mengenalku
someday i will tell you
cerita tentang diriku
sejak waktu itu
hati kecil bicara
dunia kan indah
bila kita bersama
someday i will get you
it doesn't matter what you say
oh sungguh kau merampas hati

.....reff
.....rap

Satu gebrakan yang unik adalah penempatan unsur pop sebagai landasan, dan rap hadir di tengah-tengahnya. Progresi berjalan dengan lancar, dan...saat kita dengar rapper Christoper Aguilar: wah, lagu Someday baru terasa nge-beat.

Vokal mas Katon nyaris tak terganggu ketika Christoper Aguilar melafalkan sekian baris lirik. KLa cerdas dalam membuat lagu yang sederhana. Dengan Someday, komposisi album KLa terasa apik dalam memainkan tempo dan beat dari dua unsur kebudayaan (pop dan rap).

Kupercaya terjadi .... Someday you'll be mine ...

Jumat, 30 Januari 2009

Facebook dan Blackberry

President Barack Obama checks his BlackBerry as he walks along the West Wing Colonnade towards the Oval Office at the White House in Washington, Thursday, Jan. 29, 2009. (AP Photo/Charles Dharapak).

Bila teman-teman kera ngalam aktif meng-update Facebook, kini fasilitas itu terdapat pada Blackberry. Sebenarnya fasilitas ini juga bisa didapatkan pada Nokia E61i yang mampu memanfaatkan fasilitas push-mail dan Facebook tentunya. Teknologi gaul Blackberry relatif sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Facebook menjadi salah satu aplikasi software terbaru untuk Blackberry yang memungkinkan penggunanya mengakses situs jejaring sosial ini lebih cepat, efisien, dan teroptimalisasi. Kombinasi sistem arsitektur Blackberry dan platform Facebook, membuat pengguna dapat mengirim dan melihat pesan, foto, dan berbagai fitur Facebook secara mobile.

Di sisi lain, teknologi gaul ini amat memudahkan komunikasi-rasa antara wakil rakyat dan konstituen. Dunia komunikasi dan jejaring sosial bertemu secara intensif. Jejaring sosial menjadi alternatif bagi kaum muda untuk tetap berhubungan dengan wakil rakyat yang masih muda dan progresif.

Aplikasi Facebook untuk Blackberry ini dapat didownload secara gratis dari website resmi BlackBerry. Saya eksperimen dengan Blackberry 8320, dan lumayan lancar akses pada Facebook untuk berkomunikasi sambung rasa dengan teman-teman. Andai
wakil rakyat berkomunikasi dengan teknologi gaul ini, mungkin citra, cita, visi dan kinerja dapat terkendali dengan cermat.

Teman terdekat dalam Facebook kita adalah sahabat yang mengontrol visi-misi kita, dengan santai, leluasa dan langsung bersarang pada hati nurani.

Meretas Masa Depan Bersama












sumber gambar
: http://ini-upik.blogspot.com


Hatur nuwun untuk blogger malang http://ini-upik.blogspot.com.
Karya fotonya menarik bila kita lihat dari sisi "depan". Seorang pengendara sedang bergegas ke kanan. Entah kemana tujuannya, yang kita pahami adalah ia tengah melaju ke arah masa depannya.

Tampil sebagai fokus adalah bangunan yang tegak menjulang berwarna putih. Tebak, bangunan itu ada di daerah mana...

Apakah kita pernah berpikir, bagaimana arsitek dan fotografer mengambil momen tentang bangunan itu? Selintas, bangunan di pojok itu mengajak kita untuk menjaga jarak dari jalan raya dan merenungkan apa yang akan kita buat di masa depan.

Kemampuan melihat masa depan, niscaya bisa kita miliki dengan olah pengetahuan tertentu. Contoh lain, selain fotografi, terdapat hibriditas antar pengetahuan statistik dan politik yang menghasilkan teknik quick count. Sehingga masa depan kuantitas suara dapat terketahui lebih awal.

Melalui jaan "sufi", melihat masa depan bukanlah mustahil. Peleburan diri dengan-Nya membuat segala realitas dengan cepat sekali berpindah ke realitas lain. Sampai-sampai, kepasrahan kepada-Nya membuat kita tak sanggup menanggung keterleburan itu.

Lantas, mengapa "masa depan" itu perlu dilihat atau bahkan diretas sedemikian rupa?

Kita dapat memandang masa depan sebagai gagasan atau kenyataan yang absolut. Meski untuk meretasnya hanya bisa diperoleh secara patah-patah, tidak lengkap, dan melalui upaya batin yang ajeg dan terus menerus.








  • Bisa jadi, masa depan adalah gagasan kera ngalam yang tersusun bersama-sama melalui percakapan (jonggringan) di warung kopi, dan blog ini.
  • Bisa pula, masa depan adalah kenyataan yang dihadapi tiap-tiap individu kera ngalam di esok hari, kala matahari terbenam dan bulan sabit terbit.
Bila demikian halnya, dalam alam kesufian, "politik" akhirnya hanya nampak sebagai tugas kesufian yang spekulatif ---> demi menyusun masa depan berbentuk tatanan sosial-politik yang ideal. Tugas konkret kesufian adalah mendekat kepada-Nya dengan resiko yang siap diambilnya.

"Meretas Masa Depan Bersama", dalam konteks Hukum dan Sejarah, merupakan tindakan untuk men-jonggring-kan sesuatu yang sudah diselesaikan atau yang sudah terjadi. Masing-masing rasa yang tertanam di kera ngalam, dapat meng-obrol-kan bangunan yang tegak berdiri itu (karya fotografi "upik"). Menara bergurat warna merah-hati menjadi titik berdiri kita untuk meretas masa depan yang entah bagaimana pun bentuk konkretnya.

Kaum muda kera ngalam sanggup meretas masa depan dengan minim kata. Visualisasi atas masa depan melalui fotografi, adalah contoh bagaimana kita memulai sesuatu untuk melaju ke masa depan.

Ibarat, pengendara sepeda motor dalam karya fotografi upik....

"Sampeyan": Pemilik Kedaulatan Rakyat

Istilah "sampeyan" dalam kosmologi jawa menyodorkan makna untuk memberikan penghargaan terhadap manusia yang lain. Meski tidak dalam penderajatan yang amat tinggi dalam hirarki bahasa jawa, tapi di ufuk timur Malang, istilah ini cukup membuat rasa menjadi setara.

Teman-teman Malang masih ingat John Locke bukan? Sosok yang sering kita dengar sejak jenjang pendidikan SMP/Tsanawiyah hingga pendidikan lebih tinggi. Ia penulis Teori kedaulatan rakyat. Locke berpandangan bahwa rakyatlah menjadi raja sebagai penentu kebijakan publik (public policy).

Kedaulatan rakyat dilaksanakan oleh sistem demokrasi. Ia menggambarkan, terbentuknya sebuah negara berdasarkan kontrak sosial yang terbagi atas dua bagian yaitu factum unionis (perjanjian antar rakyat) dan factum subjectionis (perjanjian antara rakyat dengan pemerintah). Penyederhanaan teori telah memasukkannya dalam kategori teori liberalisme (lihat misalnya: http://en.wikipedia.org/wiki/John_Locke).

Nah, sebagai "kaum muda" Malang, saya merenungkan filsafat hukum Locke ini. Posisi kedaulatan telah diambil alih oleh kekuasaan konstitusi, sebagai kekuatan pengabsah yang melandasi aturan konstitusional. Iseng-iseng bila kita baca sekilas "komentar pakar" tentang Treatise on Civil Government, maka hak sampeyan lah untuk menyusun aturan hukum konstitusi.

Hak sampeyan bersifat alami. Kalimat atau prinsip "Sampeyanlah pemilik sejati kedaulatan rakyat" mempertimbangkan hak sampeyan dalam transformasi tirani melalui tatanan hukum yang ada (sebagai awal dari proses pembubaran tirani).

Kerangka "hak sampeyan" yang alami, kalau kita coba konsisten dengan Locke, menempatkan kekuasaan parlemen sebagai inti dari segala sesuatunya. Ia merupakan kekuasaan tertinggi, kekuasaan yang paling menentukan, yang pelaksanaannya menentukan segala hal yang penting.

Bagaimana dengan Pemilu ini? Ia hanya salah satu sub-sistem yang penting untuk menentukan masa depan.

Suatu malam saya merenung tentang Locke ini: Di tangan Sampeyan, Masa Depan Bangsa Dipertaruhkan...

Senin, 26 Januari 2009

RUU Tipikor

RUU Tipikor, satu aturan hukum yang penting di negeri ini. Proses legislasi pada masa sidang DPR-RI awal tahun 2009, salah satunya mengagendakan proses pembahasan RUU ini.

Mahkamah Konstitusi telah memerintahkan dalam putusannya tentang urgensitas RUU Tipikor dalam tata hukum nasional. Sudah saatnya, dalam tenggat waktu yang singkat ini poin-poin penting dalam RUU itu diorientasikan pada kepentingan nasional (national interests).

Poin penting dalam RUU Tipikor yang mesti bersama-sama kita jaga adalah: kedudukan pengadilan tindak pidana korupsi. Apakah ketentuan dalam Pasal 2 RUU Tipikor benar-benar akan teruji efektivitas pelaksanaannya nanti? Dimana, pengadilan tipikor merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum. Sejauh mana independensi putusan hakim akan terjaga?

Teman-teman muda di Malang saya kira patut "bersiap-siap" dengan efek dari draf Pasal 3 RUU ini: "pengadilan tipikor berkedudukan di setiap ibukota kabupaten/kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan".

Andai, daya kritis kaum muda di Malang baik di bidang hukum, politik maupun sosial-budaya telah terkumpul sedemikian rupa, maka proses pelembagaan pengadilan tipikor di daerah akan kian marak dengan aktivisme pengawasan yang beragam.

Satu derajat aktivisme yang menuntut kita semua untuk memahami seluk beluk, detil, dan rangkaian peristiwa "klik-politik di daerah" sebagai bukti penguat adanya tindak pidana korupsi.

Ufuk baru bagi karir di bidang hukum yang transparan adalah: rumusan awal pasal 13 tentang syarat-syarat Hakim Ad hoc, cobalah kita refleksikan bersama. Adakah intelektual dari Malang yang mampu memenuhi unsur-unsur Hakim Ad Hoc? Syarat utama adalah pengalaman 15 tahun di bidang hukum, punya integritas moral, tidak menjadi pengurus dan anggota partai politik dan seterusnya.

Saya kira, di masa depan, kaum muda mampu memposisikan diri sebagai hakim ad hoc. Garda terdepan untuk penghentian tindak pidana korupsi di Indonesia, dan khususnya di daerah Malang.

Robikin Emhas dan KPU

Law says Syamsul can stay on KPU despite incarceration
National News - November 05, 2007
Adianto P. Simamora, The Jakarta Pots, Jakarta



Despite his current detention in Malang's main jail for graft charges, newly elected KPU member Syamsul Bahri may still have the legal right to fulfill his position on the national commission responsible for running the 2009 elections.


University of Indonesia legal expert Rudi Satrio said, "As long as there is no final court ruling, Syamsul has the right to become member of the KPU".

"Naming him as suspect can not be used to drop Syamsul from the commission," Rudi said.

But Danang Widoyoko, deputy coordinator of the Indonesian Corruption Watch (ICW), and political observer Andrinof Chaniago from the University of Indonesia, said "it would be better" to drop Syamsul from the General Election Commission (KPU) "to ensure the works of the commission in preparing the general elections".

Danang said, "I think, it is impossible to wait until the court issues a final ruling (because this) could take between three and four years".

"In addition, with his status as (a) suspect, Syamsul would not be able to concentrate (on KPU operations).

"He would (be more focused on his case) and the legal process," he said.

But Rudi said Symsul's legal right to take up his new position with the KPU applied to all suspects in any legal trial.

Rudi said Syamsul's current incarceration should not disrupt his status with the KPU.

"As a human being, Syamsul is not guilty yet ... it will violate the law if the government replaces him now ... let's wait for the legal process," Rudi said.

The Malang Prosecutor's Office detained Syamsul at Lowokwaru Penitentiary in Malang on Friday over the development of a sugar industrial complex project in Malang.

Andrinof said he had asked the government to drop Syamsul from the KPU because the commission's responsibilities to prepare for the 2009 legislative and presidential elections would be more demanding than ever before.

"For the sake of public interest and the success of the 2009 elections ... it is better to name a new KPU member to substitute Syamsul," Andrinof said.

"The KPU membership must also be odd in numbers ... to ensure fair decisions in their meetings."

He said Saut Hamonangan Sirait was ranked eight in suitable KPU candidates and would be next in line for a position on the commission.

Syamsul's lawyer Robikin Emhas said his client should be released under an agreement signed by his lawyers and the Rector of Malang-based Brawijaya University, where Syamsul is employed.

"The arrest is unreasonable ... my client is not guilty and many have guaranteed that, including the rector," Robikin said Friday.

Syamsul reportedly refused to sign his detention letter.

House of Representatives Speaker Agung Laksono has also called on the government to drop Syamsul from the list of KPU members and let the House seek his replacement.

Jumat, 09 Januari 2009

Sanksi dan "Mendidik"

Dunia persebakbolaan tak luput dari jangkauan dunia hukum. Sewaktu saya menjadi Tim Advokasi Aremania, hukuman dalam bentuk sanksi yang keras sama sekali belum menunjukkan unsur mendidik. Misalnya, larangan memasuki stadion di seluruh Indonesia selama 3 tahun. Ini adalah bentuk sanksi yang sangat berlebihan dan tidak adil.

Tindakan beberapa oknum Aremania di Kediri sama sekali bukan intimidasi. Sebab, intimidasi menurut peraturan PSSI memiliki unsur utama memaksakan sebuah tim memenangi pertandingan.

Yang menjadi pelajaran berharga bagi kita semua adalah bagaimana kita semua berperilaku santun dalam olah raga dengan dukungan perangkat aturan yang responsif atas dunia olahraga.

Jangan sampai, unsur responsivitas dalam pertimbangan dunia hukum, hilang ditelan palu meja hijau. Tak terbayangkan bila sportivitas tumbuh hanya dengan palu meja hijau.